Varicella cella, whatever will be, will be…

Tepat seminggu lalu, gue yakin virus itu mulai masuk ke dalam diri ini. Gue sangat yakin, virus itu yang telah membuat gue menderita penyakit ini. Pada hari itu, gue tidak
seperti biasanya main badminton yang dirasa sudah lebih dari setahun lamanya terakhir kali memainkannya. Di sebuah lapangan tertutup tapi masih ada angin masuk di kawasan
Depok dekat Universitas Gunadarma yang sering orang menyebutnya Golden Stick karena tempat billiard di lokasi itu paling mentereng logonya. Hari itu memnang sangat padat
manusia di sana, karena ada turnamen futsal kelihatannya. Ya, maklum di sana lapangan badminton digabung dengan lapangan futsal. Bukan artinya main futsal di tengah terus di
pinggirannya gue main badminton atau ganti-gantian gitu lho ya maksudnya. Ngerti kan? Kalo belum ngerti coba tanya sama yang udah ngerti.

Nah, hari itu juga pulang badminton langsung mandi dan pergi lagi. Sok sibuk? Iya, emang, sok banget. Ada bakat penyakit lah itu pasti. Dan, keesokan harinya hari rabu adalah
hari dimana pengumuman tes CPNS Tes Kemampuan Dasar (TKD) untuk Kementerian ESDM yang begitu lama sudah dinanti hingga lebih sebulan lamanya. Dalam web pun akhirnya
menunjukkan bahwa nilai yang memenuhi passing grade dan berhak untuk mengikuti Tes Kemampuan Bidang (TKB) yang berlangsung siang tadi. Nah, setelah diumumkan, diketahui, dan
disyukuri oleh gue dan keluarga akhirnya mulailah mempersiapkan diri dengan berbagai bacaan mengenai Kementerian ESDM beserta segala regulasi, kebijakan, kasus-kasus terkini.

Pada keesokan harinya, yaitu hari setelah rabu yang kita sering sebut dengan hari kamis. Pagi yang seperti biasa pada awalnya, mengantar ibu membeli buah mangga dan tetiba
setelah sampai rumah seperti mendadak demam disertai pegal-pegal yang gue pikir itu akibat dari jarang olah raga. Tapi demamnya begitu berbeda, mendadak tenggorokan dan
kerongkongan seperti radang atau panas dalam. Tidak doyan makan, tidur terus, tapi tetep awesome. Gejala flu berat yang terpikir, dihajarlah dengan parasetamol dan obat flu
milik Ibu yang lucu bentuknya karena kapsul transparan berisi bola-bola kecil berwarna-warni. Imut sekali. Kemudian, gue yakin sembuh setelah meminum obat imut itu. Tanpa
diduga tiba-tiba hari kamis itu cepat sekali berlalu, mungkin karena lebih banyak diisi dengan tidur. Hari jum’at malamnya sudah terasa sehat, serta pada hari itu juga Sang
Adik pulang ke rumah setelah diminta oleh gue untuk pulang menjenguk Kakaknya yang demam aneh seperti hidup segan mati jangan ini. Nah, pada jum’at malam ini lah
puncaknya….. gue merasa pinggiran jempol kaki sebelah kanan dan telapak kakinya sakit sekali, entah tergores kuku atau digigit nyamuk. Untungnya saya tidak menggaruknya,
karena itu adalah ruam-ruam akibat virus Varicella a.k.a chickenpox a.k.a cacar air. Darimana saya dapat ide itu? Itu lewat Ibu yang sebelumnya gue minta untuk periksa kulit
kepala gue yang terasa seperti banyak sekali ketombe mungkin akibat keringat saat demam sebelumnya. Tapi Ibu nyeletuk, “jangan-jangan kamu cacar” dan gue berpikir tidak
sampai seburuk itu. Ya, hingga akhirnya gue menemukan ruam-ruma merah di jari-jari tangan dan kaki itu. Gue pertama malah ke kamar Sang Adik, dengan bertanya “kayanya bener
gue cacar deh, Dek…” dan wajah Sang Adik malah jijik dan enggan untuk berbicara lebih jauh lagi mungkin karena takut tertular. Dan setelah itu, malam itu mendadak menjadi
sulit tidur. Padahal sebelum posisi lagi asik belajar dan akhirnya terbesit ide untuk browsing tentang penyakit ini. Dan dari berita yang ditemukan gejalanya persis seperti
yang dialami demam pada 1-2 hari sebelum ruam, lalu tenggorokan tidak enak, nafsu makan berkurang, de es be. Persis dan tepat, tapi ada satu gejala lagi yang saat itu belum
muncul yaitu ruam-ruam merah pada perut dan punggung. Syukurlah, namun tetap belum bisa tidur karena sebab itu dan sebab lain yang dirahasiakan. Karena tetap gelisah akhirnya
memutuskan melihat ke kaca pada bagian perut dan punggung dan apa yang terjadi?

Saat itu juga akhirnya terpaksa membangunkan Ibu yang sudah tertidur dan bilang “benar Bu, Rendha cacar…”, dan lalu Ibu menjawab “yasudah, besok pagi ke dokter..”. Nah,
untungnya ini langsung dilakukan, tindakan preventif yang luar biasa menurut gue… Karena sebelumnya memang yang ada di pikiran adalah penderita cacar itu kan akan jadi
banyak bopeng-bopeng dan koreng di sekujur tubuh. Apa yang terjadi pada wawancara TKB gue nantinya. Ada banyak alasan untuk pesimis, tapi saya ingat Anies Baswedan untuk
melihatnya dengan positif dan kalau kata Wiji Thukul itu satu kata, yaiut Lawan!. Katanya cacar jadi gak doyan makan, ya gue makan dan obat serta vitamin dari yang diberikan
dokter yang paling membantu. Terima kasih wahai dokter, janganlah kau demo besok karena pasien pasti membutuhkan kehadiranmu bukan hanya tafakur darimu. Halaaah… Dan cacar
yang kami takutkan Alhamdulillah tidak terjadi (atau belum terjadi?). Tapi dari hasil browsing ada juga yang mengalami seperti gue yaitu hanya 3 hari masa inkubasi dan cacar
air yang keluar kecil-kecil bentuk ruamnya. Cacar air yang ditakutkan menghancurkan interview TKB CPNS Kementerian ESDM sudah berlalu. Terima kasih keluarga yang telah
memberikan semangat dan bantuan serta tindakan preventif yang luar biasa cepat. Credit untuk Ibu yang tiada takutnya menghadapi orang yang sakit apapun itu meski penyakit
menular dan menjijikan sekalipun beliau akan tetap rela melakukan kontak langsung, pasti. Ayah juga yang sudah mengantarkan dan memberi wejangan setiap sebelum interview
kerja gue meskipun wejangan yang dikasi itu pengulangan yang kadang sering membuat kita bosen, tapi tetap saja merupakan dukungan moral yang tiada ternilai harganya. Meskipun
gue tau ada nervous yang tinggi dari seorang ayah di pagi itu.

Obat-obatan yang gue pakai selama diserang virus dan jamur (ups!) itu gak sedikit dan gak murah juga sepertinya, antara lain Acyclovir tablet 400 mg yang diminum 5x sehari untuk mengalahkan virus dari dalam tubuh, Benovit C multivitamin yang diminum 1x sehari, paracetamol yang diminum kalau badan kurang enak atau demam dan keringat dingin, Lexavon obat batuk sirup rasa jeruk yang sukses menunda sakit tenggorokan gue, Acyclovir salep yang diminum eh bukan dioleskan pada ruam-ruam merah tiap saya ingat ya minimal 3x sehari (seharusnya 6x sehari) untuk melawan virus dari luar tubuh, kemudian obat yang luar biasa bernama garamycin dan mycorine yang telah berjuang melawan musuh terbesar saya selama hari-hari menyakitkan itu yaitu jamur yang bikin pengen amputasi kaki. Ya, dua penyakit dalam satu masa yang bebarengan. Tapi ya begitulah harus tetap disyukuri. Intinya jangan pernah menyerah dengan vonis ataupun kata-kata orang dan mitos-mitos yang ada, pengalaman lebih berbicara. Google akan mengantarkanmu pada orang-orang yang berpengalaman. Yang mengajarkan bahwa cacar itu ternyata harus mandi untuk membersihkan bakteri dengan dettol anti-septik juga sabun dettol yang membunuh bakteri, juga mitos kalau cacar tidak boleh kena angin padahal gue butuh AC di kamar untuk mencegah keringat yang justru akan menyebabkan gatal dan pengen garuk-garuk yang bisa berakibat luka serta infeksi. Ya, secara tidak langsung di sinilah ujian sebenarnya dari yang disebut dengan puasa atau menahan diri. Menahan diri untuk tidak marah-marah, tidak garuk-garuk, tidak putus asa. Siap?