Curhat Sarjana Terlambat

Yap,  5 Maret 2013 yang lalu akhirnya lulus dan memiliki gelar S.T. (Sarjana Teknik) setelah menempuh masa studi berlebih di sebuah universitas swasta di Jakarta dengan bidang Teknik Perminyakkan. Ya, gue selalu berpikir apalah istimewanya kelulusan yang sudah di luar masa studi normal? Masih layakkah untuk dirayakan? Sampai-sampai gue berpikir untuk apa ikutan wisuda juga, meski tau pasti ortu gak bakal setuju kalau gue memilih gak ikut wisuda. Padahal gue mikir aja gitu, sakit hati nanti kalau liat foto dipajang hasil kuliah yang males-malesan ditambah nilainya hanya cukup memuaskan. Untuk apa?

Kemudian, berpikirlah bahwasanya masih banyak orang yang belum tentu seberuntung kita bisa mengenyam pendidikan tinggi seperti yang kita inginkan, dibiayai hingga lulus, masih banyak yang ingin kuliah tapi gak punya biaya. Lalu berpikirlah lagi bahwa masih ada teman-teman yang masih harus menempuh masa studi lebih panjang lagi. Lalu berpikirlah selama ini gue kuliah dibiayai siapa dan untuk membanggakan siapa.

Maka, tiada sedikitpun alasan di dunia ini untuk mengeluh dan memberi waktu yang  terlalu berlebih pada sebuah penyesalan. Kadang kegagalan itu juga perlu dipigura dan dipajang untuk dapat selalu kita kenang prosesnya. Kelak akan kita tertawakan kegagalan itu atau malah berterima kasih padanya kelak bila menjadi orang yang jauh lebih baik dan berguna dibanding pada masa itu.

Sejujurnya gue gak terlalu suka membesarkan sebuah gelar. Ketika gelar itu disandang justru yang muncul di kepala adalah bagaimana mempertanggungjawabkannya. Sanggupkah? Sudahkah siap untuk mewujudkan cita-cita yang sebenarnya? Pintu itu sudah terbuka lebar sekarang, tinggal diri sendiri yang memutuskan waktu untuk masuk ke dalamnya, dengan langkah yang sedikit dan dengan gemetar ketakutan, dengan langkah yang tegap, gagah, dan pasti, atau dengan berlari tanpa berhati-hati. Terima kasih ayah dan ibu juga seluruh keluarga serta teman-teman yang mendo’akan tanpa gue dengar. Time for a change, time to move on!